BerandaPariwisataSTP AMPTA Yogyakarta Kembangkan Kerangka Asesmen Destinasi Pariwisata Inklusif di Tiga Situs...

STP AMPTA Yogyakarta Kembangkan Kerangka Asesmen Destinasi Pariwisata Inklusif di Tiga Situs Wisata

spot_img

Foto: Peserta penelitian STP AMPTA Yogyakarta saat mengikuti uji pengalaman wisata inklusif di kawasan Tamansari, Yogyakarta. (Foto: Dok. STP AMPTA)

YOGYAKARTA, jendelainfo.co.id — Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) AMPTA Yogyakarta mengembangkan kerangka asesmen destinasi pariwisata inklusif bagi wisatawan penyandang disabilitas. Penelitian yang didanai penuh oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (KEMENDIKSAINTEK) tersebut dilakukan melalui uji pengalaman wisata secara langsung di tiga destinasi di Yogyakarta.

Penelitian bertajuk “Pengembangan Kerangka Konseptual dan Instrumen Asesmen Destinasi Pariwisata Inklusif bagi Pengunjung Disabilitas di Museum Kedhaton, Wahanarata, dan Tamansari” itu diketuai Gilang Ahmad Fauzi, S.S., MDS, M.Sc., dengan anggota peneliti Hary Hermawan, S.Par., M.M., dan Dr. I Putu Hardani Hesti Duari, S.T., M.MPar.

Penelitian ini bertujuan mengembangkan kerangka konseptual asesmen yang dapat digunakan untuk menilai kesiapan destinasi dalam memberikan pengalaman wisata yang lebih inklusif, terutama bagi wisatawan dengan kebutuhan aksesibilitas yang beragam.

Berbeda dengan asesmen yang hanya berfokus pada keberadaan fasilitas fisik, penelitian ini menempatkan pengalaman wisatawan sebagai salah satu sumber utama dalam mengembangkan indikator asesmen.

Pada 28 Juli 2026, peserta penelitian mengikuti uji coba tur secara langsung di tiga lokasi, yakni Keraton Yogyakarta, Tamansari, dan Museum Wahanarata.

Peserta tidak hanya memberikan pandangan secara teoritis, tetapi mengalami langsung berbagai tahapan perjalanan wisata. Mulai dari akses menuju destinasi, mobilitas di kawasan, informasi dan interpretasi, fasilitas pendukung, interaksi dengan lingkungan dan pengelola, hingga berbagai hambatan yang muncul selama kegiatan wisata.

Pendekatan tersebut dinilai penting karena sebuah destinasi dapat terlihat telah memenuhi standar tertentu secara fisik, tetapi belum tentu memberikan pengalaman yang mudah, aman, nyaman, dan bermakna bagi seluruh wisatawan.

“Kami ingin memastikan bahwa framework yang dikembangkan tidak hanya lahir dari perspektif akademik atau indikator yang bersifat normatif. Pengalaman langsung pengguna destinasi menjadi bagian penting agar framework ini benar-benar merefleksikan kondisi dan kebutuhan di lapangan,” ujar Gilang Ahmad Fauzi, ketua tim penelitian saat dikonfirmasi jendelainfo, Selasa (11/08/2026).

Setelah mengikuti tur di tiga lokasi, penelitian dilanjutkan dengan Focus Group Discussion (FGD). Forum tersebut digunakan untuk menggali pengalaman peserta secara lebih mendalam.

Sejumlah aspek yang dibahas meliputi hambatan selama perjalanan, fasilitas yang telah mendukung pengalaman wisata, kebutuhan yang belum terpenuhi, hingga rekomendasi perbaikan dari perspektif pengguna destinasi.

Masukan dari peserta kemudian menjadi salah satu sumber dalam pengembangan conceptual framework for destination assessment yang sedang disusun tim peneliti.

Menurut tim peneliti, pendekatan tersebut memungkinkan adanya keterhubungan antara bukti di lapangan, pengalaman wisatawan, dan pengembangan indikator asesmen. Dengan demikian, kerangka yang dihasilkan diharapkan tidak hanya relevan secara akademik, tetapi juga memiliki potensi diterapkan dalam evaluasi dan pengembangan destinasi pariwisata.

Penelitian ini memandang asesmen destinasi pariwisata tidak cukup dilakukan hanya dengan melihat keberadaan fasilitas fisik.

Aspek aksesibilitas, mobilitas, informasi, sumber daya manusia, pengalaman, interaksi, fasilitas, pelayanan, keamanan, kenyamanan, serta kesiapan destinasi juga perlu diperhatikan untuk mewujudkan pariwisata yang inklusif.

Kombinasi observasi lapangan, direct tourism experience, dan FGD diharapkan dapat menjembatani konsep akademik dengan realitas pengalaman wisatawan ketika berada di destinasi.

Keraton Yogyakarta, Tamansari, dan Museum Wahanarata dipilih karena memiliki karakteristik atraksi, ruang, bangunan, narasi sejarah, serta pola pengalaman wisata yang berbeda. Keragaman tersebut memberikan konteks untuk menguji sekaligus mengembangkan berbagai komponen dalam kerangka asesmen.

Hasil penelitian diharapkan memberikan kontribusi terhadap pengembangan ilmu pariwisata, khususnya dalam bidang inclusive tourism, destination assessment, accessibility, dan sustainable tourism.

Dalam jangka panjang, kerangka konseptual tersebut diharapkan dapat menjadi dasar bagi penelitian lanjutan maupun pengembangan instrumen asesmen yang dapat dimanfaatkan pengelola destinasi, pemerintah daerah, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya.

Tim peneliti juga mendorong perubahan perspektif dalam pengembangan destinasi. Penilaian tidak berhenti pada pertanyaan apakah fasilitas bagi penyandang disabilitas sudah tersedia, tetapi berkembang menjadi pertanyaan apakah wisatawan benar-benar dapat menggunakan, mengalami, dan menikmati destinasi sesuai dengan kebutuhan aksesibilitasnya.

Dengan pendekatan tersebut, pengembangan destinasi pariwisata diharapkan semakin menempatkan pengalaman dan perspektif wisatawan sebagai bagian penting dalam proses perencanaan, evaluasi, dan peningkatan kualitas destinasi.

Tim Peneliti:

Gilang Ahmad Fauzi — Ketua Peneliti

Hary Hermawan, S.Par., M.M. — Anggota Peneliti

Dr. I Putu Hardani Hesti Duari, S.T., M.MPar. — Anggota Peneliti

(Arif/jendelainfo)

spot_img
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

Most Popular

spot_img