BerandaDaerahSri Sultan Dorong Warga Lereng Merapi Tanam Kopi, Gantikan Penghasilan dari Tambang

Sri Sultan Dorong Warga Lereng Merapi Tanam Kopi, Gantikan Penghasilan dari Tambang

spot_img

Foto: Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X berfoto bersama di depan kedai kopi keliling “Nirmalagiri” usai penyerahan sertifikat tanah huntap di Cangkringan, Sleman.  

 

SLEMAN, jendelainfo.co.id – Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X mendorong masyarakat di kawasan lereng Gunung Merapi mengembangkan tanaman kopi sebagai alternatif sumber penghasilan yang tetap menjaga kelestarian lingkungan.

Pesan tersebut disampaikan Sri Sultan saat menyerahkan secara simbolis 46 Sertifikat Hak Milik (SHM) hunian tetap (huntap) kepada warga terdampak erupsi Gunung Merapi 2010 di Kalurahan Kepuharjo dan Umbulharjo, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman, Selasa (29/9/2026).

Menurut Sri Sultan, potensi kawasan Merapi tidak harus dimanfaatkan melalui aktivitas yang berpotensi merusak lingkungan. Budidaya kopi dapat menjadi pilihan ekonomi yang sekaligus mempertahankan fungsi kawasan.

“Kami mencoba daripada digali, lebih baik kita tanami kopi sebagai pengganti pendapatan sebagian warga masyarakat,” kata Sri Sultan.

Ia berharap pengembangan kopi Merapi tidak berhenti pada kegiatan budidaya. Potensi tersebut perlu dikonsolidasikan bersama, termasuk dalam pengelolaan dan pemasaran, sehingga mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

“Semua kami serahkan sama Pemkab Sleman dengan harapan kita mengonsolidasikan potensi, bagaimana dengan tidak menambang lagi itu, paling sedikit kopi ini bisa menjadi pilihan-pilihan lain yang memungkinkan untuk bisa menambah penghasilan,” ungkapnya.

Reboisasi Jadi Bagian dari Pemulihan Merapi

Selain pengembangan kopi, Sri Sultan mengingatkan pentingnya menjaga kawasan Merapi melalui reboisasi dan penguatan vegetasi.

Menurutnya, keberadaan vegetasi memiliki peran penting dalam menjaga lingkungan sekaligus membantu mengurangi risiko longsor maupun dampak material ketika Merapi kembali mengalami aktivitas.

“Harapan kami ada reboisasi dengan harapan bisa jadi menghalangi kalau Merapi punya aktivitas-aktivitas,” ujarnya.

Pengembangan tanaman produktif seperti kopi, menurut arah kebijakan yang disampaikan Sri Sultan, diharapkan dapat berjalan seiring dengan upaya menjaga kawasan Merapi.

Dengan demikian, masyarakat tetap memperoleh sumber penghidupan tanpa harus mengorbankan lingkungan yang menjadi bagian penting dari kehidupan mereka.

Kopi dan Masa Depan Warga Merapi

Pengembangan kopi menjadi bagian dari gambaran pemulihan masyarakat setelah erupsi Merapi 2010. Pemulihan tidak hanya berkaitan dengan tempat tinggal, tetapi juga bagaimana warga kembali memiliki sumber penghidupan yang berkelanjutan.

Di satu sisi, warga mendapatkan kepastian atas hunian melalui sertifikat hak milik. Di sisi lain, kawasan tempat mereka hidup tetap membutuhkan pengelolaan yang memperhatikan keberlanjutan lingkungan.

Kopi Merapi kemudian menjadi salah satu pilihan yang didorong untuk mempertemukan dua kebutuhan tersebut: penghidupan masyarakat dan kelestarian alam.

Sri Sultan berharap Pemkab Sleman dapat mengonsolidasikan potensi tersebut sehingga kopi tidak hanya menjadi komoditas pertanian, tetapi juga bagian dari strategi ekonomi masyarakat di kawasan Merapi.

(Arif/jendelainfo)

spot_img
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

Most Popular

spot_img