Foto: Joko Mursito usai meraih gelar Doktor dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dengan predikat summa cum laude. Capaian akademik tersebut menjadi momentum untuk mendorong pengembangan seni dan budaya sebagai kekuatan pariwisata dan penggerak ekonomi masyarakat.
YOGYAKARTA , jendelainfo.co.id – Joko Mursito berhasil menyelesaikan pendidikan doktoral di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dengan predikat summa cum laude. Capaian akademik tersebut menjadi momentum bagi Joko untuk mendorong pengembangan seni dan budaya sebagai kekuatan baru dalam sektor pariwisata sekaligus penggerak ekonomi masyarakat.
Joko sebelumnya menempuh pendidikan S1 di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dan S2 di Universitas Gadjah Mada (UGM). Ia mengatakan, keputusan melanjutkan pendidikan hingga jenjang doktor bukan sekadar untuk memperoleh gelar, tetapi menjadi bagian dari upaya memperluas ilmu pengetahuan dan wawasan.
“Bagi saya, ini pemenuhan cita-cita atau keinginan untuk mengenyam perguruan tinggi negeri,” ujar Joko.
Predikat summa cum laude yang diraihnya menjadi apresiasi atas capaian akademik dengan IPK 4,00 dan masa studi yang relatif cepat. Pendidikan doktoral tersebut juga ditempuh dengan biaya mandiri.
Joko mengaku memiliki tekad untuk segera menyelesaikan studi karena harus membiayai pendidikan sendiri sembari tetap bekerja.
“Karena ini biaya sendiri, jadi pekerja, untuk membayar sekolah. Makanya tekadnya segera selesai supaya biayanya tidak banyak,” katanya.
Pejabat Juga Bisa Berkompetisi di Dunia Akademik
Joko menilai pejabat daerah memang tidak selalu dituntut memiliki pendidikan hingga jenjang doktor. Namun, menurutnya, peningkatan kapasitas akademik tetap penting agar wawasan dan pengetahuan terus berkembang.
Ia juga ingin menunjukkan bahwa pejabat publik dapat berkompetisi di lingkungan perguruan tinggi dalam pengembangan ilmu pengetahuan.
“Pejabat seperti saya sebenarnya tidak dituntut harus S3. Masih jarang, tapi saya merasa penting agar ilmu pengetahuan dan wawasannya berkembang,” ujarnya.
Joko berharap hasil penelitian dan disertasinya tidak berhenti sebagai karya akademik. Produk disertasi dan buku yang dihasilkan diharapkan dapat menjadi rujukan bagi pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan.

“Bagi pemerintah daerah, produk disertasi dan buku saya itu menjadi rujukan, menjadi saran dan rekomendasi untuk ditindaklanjuti,” katanya.
Seni Budaya Dikembangkan sebagai Atraksi Wisata
Menurut Joko, salah satu gagasan penting dari penelitian yang dilakukannya adalah pengembangan seni dan budaya sebagai produk kreatif yang dapat menjadi daya tarik wisata.
Seni dan budaya, kata dia, tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga menyimpan makna, simbol, norma, sejarah, dan nilai pendidikan yang dapat dikembangkan menjadi atraksi wisata budaya.
“Lahir teori baru untuk pengembangan seni budaya sebagai produk kreatif yang bisa menjadi daya tarik wisata sebagai atraksi wisata budaya,” jelasnya.
Menurutnya, aktivitas budaya dapat memberikan manfaat di berbagai sektor sekaligus, mulai pendidikan, kebudayaan hingga pariwisata.
“Dari kegiatan itu kita bisa memanfaatkannya baik dari sisi pendidikan, kebudayaan maupun pariwisata,” katanya.
Aktivitas Budaya Bisa Gerakkan Ekonomi Destinasi
Usai menyandang predikat summa cum laude dan menjadi brand ambassador UNY, Joko mengaku memiliki gagasan untuk memperbanyak aktivitas budaya di berbagai destinasi wisata.
Ia menilai kegiatan budaya yang dikemas secara kreatif dapat menjadi instrumen untuk menggerakkan perekonomian masyarakat di kawasan destinasi.
“Punya pemikiran agar memperbanyak aktivitas budaya yang bisa menggerakkan perekonomian di destinasi-destinasi wisata,” ujarnya.
Selain memberikan dampak ekonomi, aktivitas budaya juga dapat menjadi ruang untuk menguatkan nilai-nilai pendidikan. Nilai tersebut dapat bersumber dari aspek sosial, budaya, sejarah, norma, agama, serta kearifan lokal.
Dengan pendekatan tersebut, pengembangan pariwisata tidak hanya berorientasi pada peningkatan jumlah wisatawan, tetapi juga menghadirkan pengalaman wisata yang memiliki kandungan edukasi dan nilai budaya.
Joko berharap gagasan tersebut dapat diterapkan lebih luas, termasuk oleh mahasiswa dan akademisi dalam mengembangkan berbagai potensi seni dan budaya di daerah.
“Mahasiswa-mahasiswi bisa menerapkan di berbagai kasus lain yang serupa,” katanya.
Joko juga menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang selama ini memberikan dukungan terhadap pengembangan pariwisata, khususnya wisata budaya, serta para promotor dan penguji yang mendampingi proses penyelesaian pendidikan doktoralnya.
Baginya, capaian akademik tersebut bukan menjadi titik akhir, melainkan pijakan untuk melahirkan gagasan dan aktivitas baru yang memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat melalui penguatan seni budaya, pendidikan, pariwisata, dan ekonomi kreatif.
(Arif/jendelainfo)



