Foto: Mahasiswa UGM bersama ibu-ibu PKK Kampung Jurugsari melakukan penyemaian bibit sayuran menggunakan media tanam yang diperkaya pupuk organik hasil olahan limbah rumah tangga melalui Smart Compost Vessel di Pusat Pelatihan Tumandur, Condongcatur, Sleman.
SLEMAN, jendelainfo.co.id – Tim Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) Universitas Gadjah Mada (UGM) terus mendorong pengelolaan sampah organik berbasis masyarakat melalui Program Tumandur. Kali ini, mahasiswa bersama ibu-ibu PKK Kampung Jurugsari menggelar penanaman sayuran dengan memanfaatkan pupuk organik hasil olahan limbah rumah tangga di Pusat Pelatihan Tumandur, RW 57, Padukuhan Joho, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, Selasa (30/6/2026).
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program pemberdayaan masyarakat yang mengusung konsep Smart Compost Vessel, yakni teknologi sederhana untuk mengolah limbah organik rumah tangga menjadi pupuk organik cair (POC) dan kompos. Hasilnya kemudian dimanfaatkan untuk budidaya sayuran di pekarangan sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan keluarga.
Ketua Tim PKM-PM UGM, Siti Nur Khasanah, mengatakan pengelolaan sampah organik tidak hanya mampu mengurangi volume sampah, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi masyarakat melalui produksi pupuk ramah lingkungan.
“Kami ingin menunjukkan bahwa limbah organik dapat diubah menjadi sumber daya yang bermanfaat. Selain mengurangi sampah rumah tangga, hasilnya juga dapat dimanfaatkan untuk menanam sayuran sehingga mendukung kebutuhan pangan keluarga,” ujarnya.
Sebanyak 13 anggota PKK Kampung Jurugsari mengikuti kegiatan tersebut dengan antusias. Selain praktik menanam, peserta juga memperoleh pendampingan mengenai penggunaan pupuk organik cair, perawatan tanaman, hingga pengelolaan pekarangan agar lebih produktif.
Ketua RW 57 Kampung Jurugsari, Purwoko, menyambut baik keberlanjutan Program Tumandur. Menurutnya, program ini memberikan manfaat nyata karena mengajarkan masyarakat mengelola sampah sejak dari rumah sekaligus menghasilkan pupuk yang dapat dimanfaatkan untuk budidaya tanaman.
Hal senada disampaikan Ketua PKK Kampung Jurugsari, Rini. Ia berharap kebiasaan mengolah sampah organik dapat terus berkembang sehingga setiap rumah memiliki pekarangan yang produktif dan mampu memenuhi sebagian kebutuhan pangan keluarga.
Melalui kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat, Program Tumandur diharapkan menjadi contoh pengelolaan sampah organik berbasis ekonomi sirkular yang dapat diterapkan di berbagai daerah. Inovasi tersebut membuktikan bahwa limbah rumah tangga dapat diolah menjadi sumber daya bernilai guna sekaligus mendukung terciptanya lingkungan yang lebih hijau dan berkelanjutan.
(AR/jendelainfo)



