Foto: Peluncuran Koling Merapi dan Darling Merapi sebagai sarana pemasaran kopi lokal Nirmalagiri di Museum Gunungapi Merapi, Hargobinangun, Pakem, Sleman, Selasa (22/9/2026).
SLEMAN, jendelainfo.co.id – Pemerintah Kabupaten Sleman terus memperkuat pemasaran kopi lokal Merapi Nirmalagiri agar semakin dikenal dan mampu bersaing di pasar kopi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Salah satu langkah yang dilakukan adalah menghadirkan sarana pemasaran kopi keliling melalui Koling Merapi dan Darling Merapi.
Peluncuran kedua program tersebut digelar di Museum Gunungapi Merapi, Hargobinangun, Kapanewon Pakem, Sleman, Selasa (22/9/2026).
Kegiatan ini dilaksanakan Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Kabupaten Sleman bersama Paniradya Kaistimewan Pemda DIY, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY, serta Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIY.
Gubernur DIY diwakili Staf Ahli Gubernur Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Drs. Noviar Rahmad, M.Si. Sejumlah pejabat turut hadir, di antaranya Kepala Perwakilan BI DIY Sri Darmadi Sudibyo, Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY Aris Eko Nugroho, Kepala BPKAD DIY Wiyos Santoso, perwakilan DPRD DIY, jajaran perangkat daerah Sleman, Panewu Cangkringan, serta lurah di wilayah Cangkringan dan Pakem.

Kepala DP3 Kabupaten Sleman Liem Astuti mengatakan, pengembangan kopi lokal Merapi dilakukan secara bertahap, mulai dari penguatan kawasan produksi hingga kini diarahkan pada penguatan hilirisasi, terutama sektor pemasaran.
“Pengembangan kawasan kopi robusta telah memperoleh dukungan dari Kementerian Pertanian maupun Dana Keistimewaan sejak 2022, khususnya di wilayah Turi, Pakem, dan Cangkringan,” kata Liem saat dikonfirmasi JendelaInfo, Selasa (22/9/2026).
Pengembangan kawasan tersebut kemudian dilanjutkan melalui Panen Kopi Perdana 2025 dengan tema “Kopi Sleman, Berkualitas untuk Negeri.” Pada momentum itu, kopi lokal Merapi diberi nama Nirmalagiri oleh Gubernur DIY sebagai identitas kopi lokal yang dikembangkan di kawasan Merapi.
Menurut Liem, penguatan produksi harus diikuti dengan perluasan akses pasar. Kopi Nirmalagiri diharapkan tidak hanya diproduksi di kawasan Merapi, tetapi juga semakin mudah ditemukan dan dikenal masyarakat maupun wisatawan.
“Bersamaan dengan penguatan kawasan dan produksi, tahapan selanjutnya adalah memperkuat hilirisasi, khususnya pemasaran,” ujarnya.

Untuk memperluas pemasaran, Pemkab Sleman memperoleh dukungan Pemda DIY melalui Dana Keistimewaan dan Bank Indonesia DIY melalui program CSR.
Dukungan tersebut diwujudkan dalam 10 sarana usaha kopi keliling, terdiri atas empat unit Koling Merapi dan enam unit Darling Merapi.
Koling Merapi merupakan sarana usaha kopi menggunakan kendaraan roda tiga. Empat unit kendaraan tersebut bersumber dari CSR Bank Indonesia DIY dan diserahkan kepada kelompok maupun koperasi di wilayah Sleman.
Masing-masing penerima yakni Kelompok Tani Wijaya Makmur Glagaharjo, Cangkringan, satu unit; Koperasi Kebun Makmur Hargobinangun, Pakem, dua unit; serta Sedyo Makmur Hargobinangun, Pakem, satu unit.
Koling Merapi diarahkan beroperasi di berbagai destinasi wisata Merapi dan sekitarnya, seperti Bukit Klangon, Teras Merapi, Lava Tour Merapi, Bunker Kaliadem, The Lost World Castle, Stonehenge Yogyakarta, Museum Sisa Hartaku, jalur jeep wisata Merapi, Merapi Park, Agro Wisata Bhumi Merapi, hingga kawasan wisata Kaliurang.
Sementara Darling Merapi atau Dua Roda Keliling berupa enam unit gerobak motor yang dilengkapi peralatan pembuatan kopi. Sarana ini bersumber dari Dana Keistimewaan.
Enam penerima Darling Merapi yakni Kelompok Tani Tirto Mulyo Hargobinangun, Pakem; Ngudi Lestari Wukirsari, Cangkringan; Sido Makmur Umbulharjo, Cangkringan; Ngudi Mulyo Kepuharjo, Cangkringan; Cipta Makmur Kepuharjo, Cangkringan; serta Lombok Merapi Glagaharjo, Cangkringan.
Seluruhnya diarahkan untuk beraktivitas di kawasan wisata Merapi.
Liem berharap kehadiran Koling dan Darling Merapi tidak sekadar menjadi sarana berjualan, tetapi juga menjadi kanal promosi bagi kopi Nirmalagiri. Dengan mendekatkan produk kepada wisatawan, kopi lokal Merapi diharapkan semakin dikenal sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas.
Pengembangan tersebut sekaligus melengkapi upaya pemerintah dalam membangun ekosistem kopi dari hulu hingga hilir, mulai dari penguatan kawasan dan produksi, pengolahan, hingga pemasaran.
Dengan menjadikan kawasan wisata Merapi sebagai salah satu titik pemasaran, Nirmalagiri diharapkan semakin lekat dengan identitas kopi lokal Sleman dan menjadi bagian dari pengalaman wisata di kawasan Merapi.
(Arif/jendelainfo)



