Foto: PDAM Tirta Sembada Slema.
SLEMAN, jendelainfo.co.id — PDAM Tirta Sembada Kabupaten Sleman memetakan sejumlah wilayah yang dinilai rawan mengalami penurunan tekanan maupun gangguan pasokan air selama musim kemarau 2026.
Pemetaan dilakukan dengan mempertimbangkan sejumlah indikator, mulai dari jarak wilayah terhadap sumber air, elevasi, kepadatan pelanggan hingga karakteristik jaringan distribusi.
Kasie Pelayanan dan Aduan PDAM Tirta Sembada, Sri Wahyuni, mengatakan pemantauan dilakukan untuk memastikan pelayanan air bersih tetap berjalan, terutama di wilayah yang berada di ujung jaringan distribusi.
Sejumlah kawasan yang menjadi perhatian antara lain wilayah Sleman Barat, seperti Godean, Moyudan, dan Seyegan. Wilayah tersebut relatif jauh dari sebagian sumber air utama dan jaringan distribusinya masih terus dikembangkan.
Selain itu, kawasan padat penduduk di Depok dan Ngaglik juga menjadi perhatian karena konsumsi air berpotensi meningkat pada jam-jam puncak.
Sementara di wilayah utara seperti Pakem, Turi, dan Cangkringan, faktor elevasi menjadi salah satu tantangan. Wilayah dengan posisi lebih tinggi membutuhkan tekanan distribusi yang lebih besar agar pasokan dapat menjangkau pelanggan.
“Wilayah yang berada di posisi ujung pipa menjadi prioritas pemantauan tekanan selama musim kemarau,” kata Sri Wahyuni dalam pers rilisnya, Rabu (16/9/2026).
Di sisi lain, kondisi cadangan air tanah di Sleman secara umum masih ditopang keberadaan akuifer vulkanik di kawasan lereng Merapi. Namun, sejumlah perkembangan mulai menjadi perhatian dalam pengelolaan sumber air.
Di antaranya penurunan muka air tanah di kawasan perkotaan, meningkatnya penggunaan air tanah melalui sumur bor swasta, serta potensi penurunan debit produksi ketika memasuki puncak musim kemarau.
Secara teknis, pada sejumlah titik juga mulai diperhatikan indikasi drawdown, yakni penurunan muka air ketika pompa beroperasi, peningkatan konsumsi energi pompa, serta kebutuhan waktu pemulihan atau recovery time sumur yang lebih lama.
Kawasan urban seperti Depok dan Ngaglik dinilai memiliki tekanan lebih besar terhadap akuifer seiring perkembangan hotel, apartemen, kawasan pendidikan dan permukiman.
Meski demikian, hingga saat ini tidak disebutkan adanya laporan publik mengenai krisis signifikan yang terjadi pada seluruh sumur milik PDAM Sleman.
Untuk menjaga stabilitas layanan, PDAM Sleman menyiapkan sejumlah strategi teknis. Di antaranya pemasangan booster pump, pembangunan reservoir berdasarkan zonasi, manajemen tekanan, interkoneksi jaringan distribusi serta pengaturan distribusi berdasarkan pola konsumsi pelanggan.
Langkah operasional juga dilakukan melalui flushing jaringan, pengurangan kebocoran dan pengaturan valve distribusi ketika debit produksi mengalami penurunan.
Khusus wilayah Sleman Barat, optimalisasi suplai dari sistem regional dinilai menjadi salah satu pilihan untuk memperkuat pelayanan dibandingkan terus mengandalkan eksploitasi sumur baru.
PDAM Sleman juga terus mengembangkan pemanfaatan pasokan air curah dari sistem regional.
Namun, belum terdapat data resmi terbaru yang dipublikasikan secara terbuka mengenai persentase kontribusi air curah dari PDAB Tirtatama DIY terhadap keseluruhan distribusi PDAM Sleman.
Pasokan melalui SPAM Regional Kartamantul saat ini masih berfungsi sebagai salah satu sumber pelengkap. Pemanfaatannya belum menjangkau seluruh zona pelayanan karena kesiapan jaringan penerima masih menjadi tantangan.
Sejumlah kendala yang dihadapi antara lain keterbatasan jaringan pipa transmisi dan distribusi, perbedaan tekanan jaringan, kebutuhan investasi untuk pembangunan pipa primer dan reservoir, serta karakteristik jaringan lama yang selama puluhan tahun dikembangkan dengan sistem berbasis sumber air tanah.
Wilayah Godean, Seyegan, dan Moyudan menjadi kandidat pengembangan jaringan SPAM regional karena relatif jauh dari sumber air tanah besar dan mengalami pertumbuhan kawasan permukiman.
Pengembangan jaringan dapat mencakup pembangunan pipa transmisi, pembentukan District Metered Area (DMA), pembangunan reservoir distribusi dan interkoneksi antarzona pelayanan.
Dalam menghadapi musim kemarau, PDAM Sleman juga mengoptimalkan sejumlah sumber dan sistem pendukung, di antaranya Temon, Kregan dan BR 7 Saren.
Sementara suplai SPAM regional menuju Sleman Timur disebut belum sepenuhnya optimal. Kapasitas maksimalnya sekitar 80 liter per detik, sedangkan kebutuhan PDAM Sleman telah melampaui 100 liter per detik.
Pemantauan jaringan juga mulai diperkuat dengan pemanfaatan teknologi seperti SCADA, sensor tekanan, flow meter digital, dan District Metered Area (DMA).
Teknologi tersebut digunakan untuk membantu mendeteksi kebocoran lebih awal, memantau tekanan jaringan, membaca pola konsumsi pelanggan serta mengidentifikasi potensi gangguan sebelum berkembang menjadi keluhan pelanggan.
Namun, penerapannya masih menghadapi sejumlah tantangan, termasuk keterbatasan cakupan sensor, keberadaan jaringan lama dan tingkat kehilangan air atau Non-Revenue Water (NRW).
Selain penguatan sistem jaringan, PDAM Tirta Sembada juga menyiagakan armada tangki air sebagai bagian dari antisipasi apabila terjadi gangguan distribusi selama musim kemarau.
Prioritas bantuan diarahkan kepada wilayah dengan tekanan rendah, daerah ujung jaringan, fasilitas umum dan kawasan dengan kepadatan pelanggan tinggi.
Dalam kondisi ekstrem, penyaluran air dapat dilakukan melalui koordinasi dengan BPBD Sleman, pemerintah kapanewon dan relawan distribusi air.
Koordinasi dengan PDAB Tirtatama DIY juga dapat dilakukan apabila terjadi kondisi kritis, antara lain melalui penambahan debit sementara, redistribusi zona suplai serta penentuan prioritas pelayanan bagi fasilitas vital dan kawasan padat pelanggan.
Pengembangan SPAM Regional Kartamantul yang memanfaatkan air permukaan dari Sungai Progo menjadi salah satu bagian dari strategi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan terhadap air tanah.
PDAM Tirta Sembada terus memperkuat kesiapan menghadapi musim kemarau melalui pemetaan wilayah rawan, optimalisasi sumber air, pengembangan jaringan, pemanfaatan teknologi dan koordinasi lintas lembaga.
Langkah tersebut diarahkan untuk menjaga stabilitas pasokan sekaligus memastikan pelayanan air bersih kepada masyarakat Sleman tetap berkelanjutan.
(Arif/jendelainfo)



