Foto: Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa jajal permainan Domino Orado bersama Danrem 0732/Pamungkas dan ketua ORADO DIY.
SLEMAN, jendelainfo.co.id — Olahraga domino mulai memasuki babak baru di Indonesia. Tak lagi sekadar dipandang sebagai permainan untuk mengisi waktu luang, domino kini diarahkan menjadi olahraga prestasi yang memiliki wadah, kompetisi, pembinaan atlet hingga peluang tampil di ajang olahraga nasional.
Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa mengatakan, perkembangan domino sebagai cabang olahraga menjadi momentum untuk mengubah persepsi masyarakat terhadap permainan tersebut.
“Dulu image masyarakat bahwa domino masih banyak kaitannya dengan hal-hal yang tidak bagus. Hari ini domino diubah menjadi salah satu cabang olahraga yang nantinya dipertandingkan di berbagai kejuaraan, baik tingkat lokal maupun nasional,” ujar Danang.
Menurutnya, keberadaan kompetisi resmi menjadi penting untuk memberikan ruang bagi para penghobi domino yang selama ini bermain secara informal di lingkungan masyarakat.
Danang menilai, tidak menutup kemungkinan dari para penghobi tersebut nantinya muncul atlet-atlet berprestasi yang memiliki kemampuan dan telah menjalani pembinaan secara terarah.
“Kalau ada kejuaraan, ini bisa menjadi ajang pembuktian bahwa Sleman mungkin nanti dengan olahraga ini punya atlet berprestasi. Yang dulu hanya permainan kumpul-kumpul, tetapi nanti pasti ada pemain yang berprestasi karena sudah terlatih dan memiliki wadah,” katanya.
Sementara itu, Danrem 0732/Pamungkas menyebut kegiatan turnamen domino yang digelar di Yogyakarta merupakan bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 TNI.
Menurutnya, kegiatan tersebut digelar secara serentak di 101 titik di seluruh Indonesia, dengan melibatkan berbagai unsur TNI, kepolisian, serta organisasi olahraga domino.
“Kita bersama-sama membumikan salah satu olahraga domino, khususnya di wilayah Yogyakarta,” ujarnya.
Ia berharap olahraga domino dapat menjadi sarana mempererat hubungan berbagai elemen masyarakat. Menurutnya, permainan yang selama ini sudah akrab dengan kehidupan masyarakat tersebut dapat diarahkan ke dalam kegiatan olahraga yang lebih resmi.
“Di elemen masyarakat ini sudah biasa. Sambil di pos kamling, sambil ngopi, sambil berkumpul, juga bisa bermain olahraga ini dan akhirnya dimasukkan dalam event olahraga yang resmi,” katanya.
Di Yogyakarta, kegiatan tersebut diikuti sekitar 67 tim atau hampir 128 peserta, dengan dukungan dari unsur TNI Angkatan Darat, Lanud, Lanal, Korem serta pihak terkait lainnya.
Ketua Provinsi DIY Orado, Dr. Miga mengatakan langkah berikutnya adalah memperkuat pembinaan melalui penjaringan atlet.
Ia menyebut olahraga domino telah memasuki KONI pada skala nasional. Karena itu, organisasi di tingkat daerah juga mulai dipersiapkan agar pembinaan atlet dapat berjalan secara berjenjang.
“Kita akan mulai dengan penjaringan atlet. Karena Orado Domino ini sudah memasuki KONI untuk skala nasional,” jelasnya.
Menurut Miga, pihaknya menargetkan pembentukan organisasi kabupaten/kota di DIY rampung pada Desember 2026. Saat ini, kepengurusan tingkat kabupaten yang telah terbentuk antara lain Sleman dan Kulon Progo.
Selanjutnya, pembentukan akan dilakukan di Bantul dan Kota Yogyakarta, kemudian Gunungkidul.
“Target kita Desember 2026 sudah clear di kabupaten. Januari 2027 kita akan mendaftarkan diri di KONI DIY dalam Rakerda KONI,” ujarnya.
Ia menjelaskan, setelah struktur di tingkat kabupaten/kota dan provinsi terbentuk, tahapan pembinaan akan diarahkan pada penyelenggaraan kompetisi daerah seperti pekan olahraga kabupaten/kota dan tingkat provinsi.
Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya menyiapkan atlet domino yang nantinya memiliki peluang mengikuti ajang olahraga prestasi yang lebih tinggi.
Miga juga mengungkapkan tingginya minat masyarakat terhadap olahraga domino. Antusiasme tersebut terlihat dari jumlah peserta turnamen di Sleman yang bahkan melampaui kuota yang disediakan.
“Animo masyarakat cukup puas dan sangat bagus. Di luar paradigma tentang domino ini, di Sleman yang mendaftar dengan kuota 64 peserta kemarin sempat kelebihan sekitar 20-an tim,” ungkapnya.
Karena keterbatasan kuota, sebagian peserta kemudian dialihkan untuk mengikuti kegiatan di Kulon Progo.
Menurut Miga, kondisi tersebut menunjukkan bahwa minat masyarakat terhadap domino cukup besar ketika olahraga ini diberikan ruang melalui kompetisi yang terorganisasi.
Perubahan dari permainan masyarakat menjadi olahraga prestasi pun kini mulai diarahkan melalui pembentukan organisasi, penjaringan atlet, kompetisi berjenjang, serta pembinaan yang lebih terstruktur.
Dengan langkah tersebut, domino tidak hanya diharapkan menjadi olahraga rekreasi, tetapi juga mampu melahirkan atlet yang dapat membawa nama daerah pada level kompetisi yang lebih tinggi.
(Arif/jendelainfo)



