Foto: Sejumlah wisatawan mancanegara berpose memegang keris saat berkunjung dan menikmati pengalaman budaya di Desa Wisata Grogol, Seyegan, Sleman.
SLEMAN, jendelainfo.co.id — Desa Wisata Grogol, Kalurahan Margodadi, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, berhasil masuk 15 besar Wonderful Indonesia Awards (WIA) 2026. Capaian ini menjadi apresiasi terhadap konsistensi masyarakat dalam mengembangkan pariwisata berbasis potensi lokal, budaya, lingkungan, dan pemberdayaan ekonomi warga.
Berada di kawasan Sleman Barat, Desa Wisata Grogol menawarkan perpaduan wisata alam, budaya, aktivitas buatan, hingga ekonomi kreatif. Pengembangannya diarahkan bukan sekadar untuk mendatangkan wisatawan, tetapi juga menjaga tradisi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dalam profilnya, Desa Wisata Grogol memiliki sejarah panjang. Pada 2001, Padukuhan Grogol dikukuhkan sebagai Desa Budaya oleh Dinas Kebudayaan karena memiliki banyak sanggar dan pelaku budaya.
Namun, berbagai kegiatan budaya yang digelar kala itu belum memberikan dampak ekonomi yang berkelanjutan. Kondisi tersebut mendorong sejumlah tokoh masyarakat menggagas kegiatan yang mampu menggerakkan perekonomian warga.
Pada 2010 terbentuk pengelola Desa Wisata Grogol, kemudian pada 2012 Grogol mulai ditetapkan dan dikembangkan sebagai desa wisata. Dalam perkembangannya, pengelolaan terus diperkuat hingga penetapan SK Desa Wisata tercatat pada 2024.
Sejak itu, Grogol terus berbenah dengan mengemas kekayaan desa menjadi pengalaman wisata yang menarik. Prinsip ALUI—Asli, Lokal, Unik dan Indah menjadi salah satu pijakan dalam mengembangkan potensi yang dimiliki.
Empat Kekuatan Wisata Grogol
Potensi wisata Desa Wisata Grogol cukup beragam. Dari sisi wisata alam, wisatawan dapat menikmati sungai alami, mata air yang melimpah, hamparan persawahan, serta aktivitas jelajah desa yang memperkenalkan kehidupan pedesaan secara lebih dekat.
Sementara pada sektor wisata budaya, Grogol mempertahankan berbagai tradisi dan kesenian masyarakat. Di antaranya upacara adat midhang/nyadran, wiwitan, karawitan, jathilan, serta pentas wayang kulit, wayang orang dan ketoprak.
Kekayaan budaya tersebut tidak hanya dipertahankan sebagai warisan, tetapi juga dikemas menjadi bagian dari pengalaman wisata dan pembelajaran bagi pengunjung.
Adapun wisata buatan dikembangkan melalui wahana outbound serta kolam renang alami yang menjadi alternatif aktivitas rekreasi bagi wisatawan.
Tidak kalah penting adalah sektor ekonomi kreatif. Masyarakat mengembangkan berbagai keterampilan lokal, mulai dari pembuatan wayang suket, membatik, kerajinan janur, jamu tradisional, gerabah tradisional hingga kuliner khas desa.
Salah satu kuliner yang terus dikenalkan adalah cethil, makanan tradisional yang dahulu lebih banyak hadir dalam upacara adat pemidhangan. Begitu pula tradisi wiwitan yang erat dengan kehidupan masyarakat agraris menjadi bagian dari kekayaan budaya yang dikembangkan sebagai daya tarik wisata.
CHSE dan Pariwisata Berkelanjutan
Pengelolaan Desa Wisata Grogol juga memperhatikan aspek kebersihan, kesehatan, keamanan, dan kelestarian lingkungan melalui prinsip CHSE (Cleanliness, Health, Safety and Environment Sustainability).
Visi yang dibangun adalah mewujudkan Grogol sebagai desa wisata yang bersih, nyaman, sehat dan berbudaya sekaligus menjadi wadah pembelajaran tentang kelestarian desa.
Bendahara Desa Wisata Grogol, Esthi Handayani, mengatakan tujuan pengembangan wisata Grogol adalah menghadirkan destinasi berkualitas dengan tetap menjaga keseimbangan antara pengalaman wisatawan, lingkungan, budaya, dan kesejahteraan masyarakat.
“Tujuan Desa Wisata Grogol adalah menjadi destinasi wisata berkualitas yang mengutamakan pengalaman pengunjung tanpa mengorbankan lingkungan, budaya, dan kesejahteraan warga,” kata Esthi.
Ia berharap Desa Wisata Grogol semakin dikenal, termasuk hingga mancanegara, sehingga mampu menarik wisatawan dari berbagai kalangan dan memberikan dampak ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.
Menariknya, dalam ajang WIA 2026, Esthi Handayani juga terpilih masuk 50 besar kandidat Local Hero in Tourism/Pejuang Pariwisata. Pengakuan tersebut memperkuat peran masyarakat lokal sebagai penggerak utama dalam keberlanjutan desa wisata.
Masuknya Grogol dalam 15 besar WIA 2026 sekaligus menjadi momentum untuk terus mengembangkan potensi tanpa kehilangan jati diri desa.
Harapannya, capaian tersebut dapat menginspirasi desa-desa wisata dan para pegiat pariwisata lainnya untuk terus berinovasi, memberdayakan potensi lokal, serta bersama-sama mendorong kemajuan pariwisata Indonesia yang berkelanjutan.
(Arif/jendelainfo)



