Foto: Kepala DPKP DIY bersama panitia dan Bupati Gunungkidul
GUNUNGKIDUL, jendelainfo.co.id – Seni bonsai tak melulu soal keindahan tanaman dalam pot. Di Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), bonsai mulai didorong menjadi bagian dari pengembangan ekonomi kreatif sekaligus sarana menjaga kelestarian alam.
Pesan tersebut mengemuka dalam Handayani Bonsai Fest #2, pameran dan kontes bonsai berskala nasional yang menghadirkan 647 pohon bonsai dari 41 wilayah/cabang di Indonesia.
Kegiatan yang berlangsung 5–8 September 2026 ini menjadi ruang pertemuan para pecinta dan komunitas bonsai dari berbagai daerah, sekaligus momentum memperkenalkan potensi bonsai lokal Gunungkidul ke tingkat nasional.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY, Aris Eko Nugroho, mengatakan penyelenggaraan Handayani Bonsai Fest untuk kedua kalinya menjadi upaya memperkenalkan produk bonsai lokal DIY, khususnya dari Gunungkidul, sekaligus membuka kesempatan untuk melihat kualitas bonsai dari daerah lain.
“Ini merupakan tahun kedua untuk mengenalkan produk bonsai dari lokal DIY, khususnya Gunungkidul, serta mengenal kualitas bonsai dari luar DIY,” kata Aris saat dikonfirmasi jendelainfo, Minggu (06/09/2026).
Menurut Aris, pengembangan bonsai juga memiliki kaitan erat dengan upaya merawat filosofi Hamemayu Hayuning Bawana, yakni menjaga keharmonisan dan kelestarian alam.
Ia menekankan bahwa seni bonsai tidak harus dilakukan dengan mengambil tanaman dari alam. Budidaya secara terencana justru dapat menjadi alternatif yang mampu menghasilkan karya bernilai seni sekaligus memiliki nilai ekonomi tinggi.
“Bonsai tidak harus mengganggu alam, tetapi bisa melalui metode budidaya yang mempunyai nilai ekonomi tinggi,” ujarnya.
647 Bonsai, Peserta dari 41 Wilayah
Handayani Bonsai Fest #2 diikuti peserta dari berbagai wilayah di Indonesia. Sebanyak 647 pohon bonsai dipamerkan dan dilombakan dalam empat kelas.
Rinciannya, 421 pohon berada di kelas bahan, 162 pohon kelas pratama, 33 pohon kelas madya, dan 31 pohon kelas utama.
Peserta asal Gunungkidul sendiri menampilkan 194 pohon, terdiri dari 145 pohon kelas bahan, 40 pohon kelas pratama, tujuh pohon kelas madya, dan dua pohon kelas utama.
Peserta datang dari berbagai daerah, baik di Pulau Jawa maupun luar Jawa, di antaranya Bandung, Boyolali, Jambi, Surabaya, Yogyakarta, hingga Gunungkidul.
Keragaman peserta tersebut menjadi kesempatan bagi komunitas bonsai lokal untuk menguji kualitas karya sekaligus membangun jejaring dengan pehobi dan komunitas dari berbagai daerah.
Empat Pilar: Seni, Pariwisata, Ekonomi dan Ekraf
Handayani Bonsai Fest #2 tidak dirancang sebatas kontes. Kegiatan ini membawa empat pilar utama, yaitu seni, pariwisata, ekonomi, dan ekonomi kreatif.
Pada sektor seni, kegiatan menjadi wadah untuk meningkatkan sekaligus mengenalkan potensi seni bonsai Gunungkidul dalam skala nasional.
Sementara pada sektor pariwisata, peserta dijadwalkan mengikuti tour wisata pada 6 September 2026 dengan mengunjungi lokasi pembibitan bonsai dan Pantai Pulang Syawal.
Agenda tersebut diharapkan mampu mendorong promosi destinasi wisata Gunungkidul sekaligus meningkatkan lama tinggal dan belanja wisatawan.
Dari sisi ekonomi, panitia menghadirkan bursa bonsai dan tanaman hias serta melibatkan UMKM pendukung. Adapun sektor ekonomi kreatif diberikan ruang untuk melakukan promosi, berkolaborasi, sekaligus menampilkan berbagai karya kreatif.
Kegiatan ini didanai melalui Dana Keistimewaan pada Subkegiatan Pengembangan Industri Kreatif dan bertepatan dengan perayaan HUT PPBI ke-47.
Ada Program Regenerasi Pelajar
Upaya membangun ekosistem bonsai juga diarahkan kepada generasi muda.
Sebanyak 30 pelajar Gunungkidul akan mengikuti Bimbingan Teknis Ekonomi Kreatif Subsektor Bonsai pada 7–8 September 2026.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya regenerasi agar bonsai tidak berhenti sebagai hobi atau seni komunitas, tetapi berkembang menjadi subsektor ekonomi kreatif yang dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
Sementara itu, penghargaan dalam kontes meliputi Best in Show, Best in Class di setiap kelas, Best Ten untuk setiap kelas, serta Best Twenty khusus kelas prospek atau bahan.
Panitia juga menyiapkan penghargaan tematik bagi peserta terjauh dan peserta dengan jumlah spesies terbanyak.
Ada pula kategori favorit yang dipilih langsung oleh Bupati, Wakil Bupati, Paniradya, serta jajaran Forkopimda pada masing-masing kelas pameran.
Proses penjurian telah berlangsung pada 2–4 September 2026, sementara pameran dibuka untuk masyarakat umum mulai 5 hingga 8 September.
Melalui Handayani Bonsai Fest #2, Gunungkidul mencoba menempatkan bonsai bukan sekadar sebagai tanaman hias dan objek kontes. Lebih jauh, bonsai diarahkan menjadi produk seni dan ekonomi kreatif yang tetap berpijak pada prinsip budidaya serta kelestarian lingkungan.
Dengan potensi komunitas, pasar bonsai, keterlibatan UMKM, promosi wisata, hingga regenerasi pelajar, seni bonsai diharapkan mampu tumbuh menjadi salah satu kekuatan baru ekonomi kreatif di Gunungkidul dan DIY.
(Arif/jendelainfo)



